☘️
Ada hari-hari ketika aku merasa sudah begitu jauh berjalan.
Begitu banyak hal kupelajari tentang tenang, tentang sabar, tentang menerima.
Namun kemudian datang hari seperti ini,
hari di mana aku kembali menjadi seseorang yang berusaha kupahami,
tetapi belum bisa kucintai sepenuhnya.
Aku marah lagi.
Padahal sudah berjanji tidak akan.
Lucu rasanya, betapa sering aku percaya bahwa aku telah tumbuh.
Kupikir dengan membaca banyak buku,
dengan menuliskan catatan reflektif tentang kedewasaan dan pengendalian diri,
aku sudah menaklukkan sisi gelap yang dulu mudah terbakar.
Ternyata, aku hanya menidurkannya sebentar.
Semua buku tentang pengendalian diri yang pernah kubaca tiba-tiba terasa seperti teori tanpa jiwa.
Kalimat yang dulu memberiku harapan
kini hanya gema kosong di kepalaku.
Mereka menatapku tanpa suara,
seolah ikut kecewa karena aku gagal lagi.
Rasanya sia-sia.
Meskipun tidak begitu.
Seolah semua jam belajar menjadi tenang itu
hanyalah sandiwara yang kupentaskan untuk menenangkan rasa takut.
Padahal, di balik semua kalimat “aku baik-baik saja”
ada bagian kecil dalam diriku yang masih ingin berteriak,
yang masih belum selesai berdamai.
Tahukah kamu, bagiku marah itu rasanya seperti lidah yang tergigit saat makan.
Bukan karena ingin, tetapi karena lupa berhati-hati.
Sakitnya tidak sampai membuat berdarah,
namun cukup untuk membuatku diam dalam sesal.
Aku hanya bisa menelan rasa pahit itu perlahan, menyadari bahwa tidak semua yang menyakitkan berasal dari luar diri.
Aku tersadar, bahkan lidah yang terdidik pun bisa tergigit.
Bahkan pikiran yang bijak pun bisa tergelincir oleh emosi.
Seberpengalaman apa pun seseorang,
kesalahan tetap punya cara halus untuk mengingatkan bahwa kita ini tetap manusia,
makhluk yang sedang belajar sabar dari rasa malu atas kemarahan sendiri.
Yang paling menyakitkan adalah ketika aku sadar, amarah itu kulampiaskan pada seseorang yang bahkan tidak bersalah.
Seseorang yang tidak tahu apa-apa,
yang kebetulan berdiri di jalur emosiku yang sedang meledak.
Ia tidak hadir di hadapanku,
tidak menatapku secara langsung,
tetapi aku menujukan kata-kata keras itu kepadanya, dari jauh.
Aku berbicara dengan kata yang menusuk,
mengirim kalimat yang kupikir akan membuatku lega, padahal justru menyalakan penyesalan yang lebih panjang.
Terbayang olehku ia diam, tidak membalas, dan keheningannya membuat segalanya terasa lebih bising di kepalaku.
Ada jarak yang memisahkan kami,
namun rasanya justru di situlah semua kesalahanku menggema.
Jarak itu tidak cukup untuk melindunginya dari amarahku, dan tidak cukup pula untuk melindungiku dari rasa bersalah.
Aku membayangkan ekspresinya, mungkin kaget, mungkin terluka, atau mungkin hanya pasrah pada amarah yang tidak semestinya ia terima.
Aku kasihan padanya.
Kasihan karena ia menjadi sasaran dari badai yang bukan miliknya.
Kasihan karena ia hanya ingin memahami,
sementara aku sibuk membela perasaan yang bahkan tidak sepenuhnya kumengerti.
Aku marah dari jauh, tapi sesalku datang dari jarak yang lebih jauh lagi.
Dan di antara semua kata yang sempat terlempar, aku ingin menariknya kembali satu per satu, menyimpannya di dada,
menggantikannya dengan diam yang lebih bijak.
Sebab terkadang, diam adalah bentuk baik yang paling bertanggung jawab.
Diam adalah cara memeluk dari kejauhan
tanpa melukai lebih dalam.
Mungkin memang begitulah cara semesta mengajariku tentang rendah hati.
Bahwa kendali bukan tentang tidak pernah meledak, melainkan tentang bagaimana aku menatap reruntuhan setelah ledakan itu
dan berani berkata pelan pada diri sendiri,
kita bisa mulai lagi.
Kadang aku merasa percuma mempelajari semua cara untuk tenang.
Namun mungkin bukan tentang hasil,
melainkan tentang proses mengenali lebih cepat.
Setiap kali bara itu kembali menyala di dada.
Tentang memeluk amarahku dengan kesadaran, seperti menenangkan anak kecil yang sedang menangis karena takut kehilangan.
Aku marah lagi hari ini,
tetapi aku juga mengerti lebih banyak dari kemarin.
Bahwa amarah bukan tanda aku gagal,
melainkan tanda bahwa aku masih berproses,
masih berjuang memahami bagian dari diriku yang belum sempat tumbuh.
Dan di antara rasa bersalah dan malu yang membungkus hari ini,
ada sebersit pengertian kecil.
Aku masih bisa memperbaiki.
Aku masih bisa menjadi lebih tenang.
Aku masih punya waktu untuk menjadi versi diriku yang lebih lembut.
Karena perjalanan mengendalikan diri
tidak selalu tentang menahan badai,
tetapi tentang belajar menari di tengah hujan tanpa kehilangan arah.
Dan mungkin, hari ini hanyalah satu dari sekian hari di mana aku harus menggigit lidahku sendiri, agar esok aku bisa belajar berbicara lebih lembut kepada dunia, dan kepada diriku sendiri.
Funfun 🥬
Note : Hari ini, aku pakai emoticon sayur sebagai ganti bentuk hati.
Seorang bibi disamping rumah, memberiku semangkuk sayur di jam makan malam hari ini.
Rasanya luar biasa.
Bumbunya sepertinya ditambah cinta seorang ibu.
Komentar
Posting Komentar