Langsung ke konten utama

BUKAN CERITA ROMANTIS (ONE LINER)

🛵
Setelah lebih dari tujuh tahun gue trauma berkendara pake motor.
Gue pikir, sampe kapanpun gue gaakan pernah bisa pake motor lagi. Gue pikir, gue akan selamanya takut dan akan terus-terusan jadi boncenger hingga akhir hidup gue.

Tapi ternyata engga.
Buktinya, sekarang gue dan temen gue, Wiki.
Kita lagi dibengkel nongkrongin motor kesayangan gue.
Motor yang warnanya warna kesukaan gue, yang tingginya pas banget di gue, yang body depannya gue penuhin stiker-stiker, yang beberapa diantaranya gue dapetin dengan susah payah. Stiker PERS yang paling susah gue dapetin. Dan stiker logo Batman yang paling gue suka.

Kenalin motor gue itu namanya, Brownie.
Kita udah sahabatan satu tahun lebih.
Sejauh ini, hubungan gue dan brownie sangat-sangat harmonis.
Brownie yang baik, nyaman dan penurut bener-bener type sahabat ideal buat gue.
Gue harus berterima kasih sama brownie yang mau dengan tenang dan sabar nemenin gue sampe sembuh dari trauma.
Meskipun beberapa kali dia harus kebentur sana sini, dan jadi punya banyak baret karena gue yang masih sering jatuh.
Dan alasan dia sekarang ada dibengkel pun, karena salah dan kecerobohan gue.

Tiba-tiba suara orang nyeruput kopi ganggu lamunan gue banget. Siapa lagi kalo bukan Wiki. Mana kopinya harum lagi. Duh!

Gue : "Ki, ki, lo pernah ngerasa iri sama hal-hal ga penting ga?"
Wiki : "Ngapain hal ga penting dipake iri?"
Gue : "Jadi ga pernah?"
Wiki : "Engga kayanya. Kenapa?"
Gue : "Kalo gue sering ki"
Wiki : "Iri tanda tak mampu! Emang lo ngiriin apa?"
Gue : "Sekarang sih gue lagi ngiri ke lo"
Wiki : "Apaan sih nih anak. Kenapa iri ke gue?"
Gue : "Iya. Gue selalu ngiri sama orang-orang yang bisa minum kopi diirit-irit, lama banget minum kopinya gaabis-abis. Gue gabisa kaya gitu"
Wiki diam beberapa saat, 
Wiki : "Gue ga denger. Tangan gue nempel ke kuping" Gue liat wiki nutup kupingnya sambil ketawa. Gue juga ikut ketawa. 

Gue : "Jadi gimana ki?"
Wiki : "Gimana apanya?"
Gue : "Gimana caranya minum kopi diirit-irit?"
Wiki : "Heh!" Dia ngebentak tapi sambil ketawa.
Wiki : "Ini namanya bukan diirit-irit, tapi dinikmati. Minum kopi itu ada seninya. Diseruput, dirasain dinikmati pelan-pelan. Dari sejak masih panas sampe dingin. Bukan diirit-irit. Apaan."
Gue : "Gue juga menikmati. Tapi kalo minumnya sedikit demi sedikit ga kerasa kaya lagi minum ki"
Wiki : "Terus? Berasa kaya apa?"
Gue : "Nyicip. Berasa nyicip kopi. Kan jadi ga keren kalo namanya nyicip kopi."
Wiki : "Ko nyicip sih? Enggalah. Minum kopi itu bukan buat ngilangin haus fani. Ada sensasinya. Nih gue jelasin. Minum dulu dikit"
Gue : "Gak ki, makasih. Asam lambung gue cepet naik kalo gue minum kopi sebelum makan"
Wiki : "Case closed berarti. Bahas yang lain"
Gue : "Hmm. Apa ya? Oh. Ki, lu tau ga gitar Rhoma irama kepalanya buntung?"
Wiki : "....."
Gue : "Itu gimana nyetingnya ya ki kalo buntung gitu?"
Tanpa nanggapin gue. Wiki matiin rokoknya yang udah hampir habis, dan ngambil sebatang lagi yang baru.

Wiki : "Kemaren itu gimana ceritanya? Ko bisa sampe jatoh gitu?"
Gue : "Gak gimana-gimana, gue rem mendadak pake rem depan, karena kaget gue kira ada polisi tidur, taunya cuma bayangan kabel kena lampu pinggir jalan. Ditambah jalanannya licinkan" Gue jelasin kronologi semalem.
Wiki : "Ya kalo gitu, namanya gimana-gimana"
Gue : "Gimana apanya?"
Wiki : "Engga. Untungnya lo ga kenapa-kenapa"
Gue : "Tapi emang kalo gue kenapa-kenapa ada ruginya?"
Wiki : "Ya rugi lah, lo sakit. Keluar duit."
Gue : "Sekarang juga gue ngeluarin duit buat brownie, berarti sekarang gue lagi rugi?"
Wiki : "Ya itu. Lo ngerasa lagi rugi ga?"
Gue : "Engga"
Wiki : "Kenapa?"
Gue : "Gue ngeluarin duit buat brownie, selagi duitnya ada, selagi brownie bisa bener lagi, gue happy."
Wiki : "Yaudah kalo lo ga rugi ngeluarin duit, mana sini duitnya buat gue aja"
Gue : "Engga. Kalo itu gue ngerasa rugi"
Wiki : "Lah kenapa?"
Gue : "Ya karena gue ga untung."
Wiki : "Kan sama-sama ngeluarin duit. Ga untung gimana?"
Gue : "Ya ga untung. Yang untung cuma rokok lo."
Wiki : "Kenapa jadi ke rokok?"
Gue : "Kan untung Rokok."
Wiki : "PUNTUNG ITU"
Gue : "Emang udah ganti ya? apa dari lama begitu?"

Gue denger Wiki hirup rokoknya lebih-lebih dalem. 
Wiki : "Ini kalo gue minjem kunci Inggris di si abangnya boleh ga ya?"
Gue : "Ya kalo dia punya, boleh kayanya, buat apa?"
Wiki : "Buat mukul kepala seseorang"
Gue : "Mukul gue?"
Wiki : "Bukan! Tapi kalo lo mau dipukul, boleh!"
Gue : "Jangan ki, lo ga berhak"
Wiki : "Hah?"
Gue : "Cuma jam ki yang boleh pukul-pukul"
Wiki : "......."

Hahahaha.
Ini cerita ringan dan garing, tentang trauma yang sudah bisa diatasi. 

Aku hanya berusaha mengingatkan, bahwa banyak hal bisa berubah dalam hidup, kalo aku aja bisa mengatasi ketakutanku terhadap trauma pake motor.
Dengan kemauan dan kerja keras.
Siapapun yang mau pasti bisa. 

Aku gaada di posisi kamu, aku pun gaakan mengekerdilkan ketakutan kamu terhadap apapun itu. Tapi, aku turut berdo'a.. 
Semoga kamu segera bisa mengatasi ketakutan dan lebih bisa mengelola emosi atasnya. 

Sekian, semoga do'a baik dikabulkan.
Sampai jumpa! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARIKU, UNTUKKU (RASA SYUKUR)

Hari ini… aku duduk sendiri di ruang kerja. Di negara orang, jauh dari rumah, sendirian menghadapi hari-hari yang rasanya… makin sunyi. Aku buka laptop, di sebelah ada sandwich yang setengah kumakan, dan sebungkus mochi yang belum juga disentuh. Entah kenapa, semuanya terasa hambar. Bukan karena rasanya, tapi karena pikiranku sedang kosong. Atau... mungkin penuh. Aku sempat mengeluh dalam hati. Tentang rasa bosan. Tentang kesepian. Tentang rutinitas yang terasa kaku. Tentang makanan yang nggak menggugah selera. Tentang perasaan hampa yang datang diam-diam. Lalu aku buka HP. Cuma iseng. Tapi yang aku temukan, bukan hiburan, melainkan hantaman. Lagi, lagi dan lagi.  Aku melihat cuplikan video. Seorang anak kecil di Gaza. Duduk di lantai penuh puing dan debu, memegang sepotong roti kering isi rumput. Tapi dia tersenyum. Bukan senyum terpaksa. Tapi senyum tulus, yang membuatku diam. Terpaku. Dan malu. Aku langsung berpikir, kenapa aku bisa-bisanya ngeluh? Aku memang jauh dari keluargak...

DALAM DIAM, AKU MENCINTAIMU

DALAM DIAM AKU MENCINTAIMU Cinta Yang Sederhana Di tengah keramaian kelas yang penuh dengan tawa dan suara lelaki, ada satu sosok yang selalu berhasil mencuri pandanganku. Dia, seorang teman sekelas yang lebih sering diam dan menyendiri, hadir seperti bayangan yang teduh. Pendiam, misterius, namun memancarkan sesuatu yang tak dapat kujelaskan. Dari pertama kali melihatnya, ada rasa yang tumbuh begitu saja—bukan karena penampilannya, bukan pula karena sikapnya yang menonjol. Rasa itu hadir seperti hujan yang turun tanpa peringatan, seperti benih yang entah bagaimana tertanam di hatiku dan terus tumbuh, meski aku tak pernah menginginkannya. Aku tidak pernah memilih untuk jatuh cinta padanya. Namun, perasaan itu hadir begitu saja, seolah hidup di luar kendaliku. Seperti rumput liar yang tumbuh subur tanpa disirami, perasaan ini semakin kuat, semakin dalam. Ada sesuatu tentang dia yang tidak pernah bisa kugambarkan dengan kata-kata. Tatapannya yang tenang, gerak-geriknya yang selalu tampak...

FROM AFAR

☘️ Ada hari-hari ketika aku merasa sudah begitu jauh berjalan. Begitu banyak hal kupelajari tentang tenang, tentang sabar, tentang menerima. Namun kemudian datang hari seperti ini, hari di mana aku kembali menjadi seseorang yang berusaha kupahami, tetapi belum bisa kucintai sepenuhnya. Aku marah lagi. Padahal sudah berjanji tidak akan. Lucu rasanya, betapa sering aku percaya bahwa aku telah tumbuh. Kupikir dengan membaca banyak buku, dengan menuliskan catatan reflektif tentang kedewasaan dan pengendalian diri, aku sudah menaklukkan sisi gelap yang dulu mudah terbakar. Ternyata, aku hanya menidurkannya sebentar. Semua buku tentang pengendalian diri yang pernah kubaca tiba-tiba terasa seperti teori tanpa jiwa. Kalimat yang dulu memberiku harapan kini hanya gema kosong di kepalaku. Mereka menatapku tanpa suara, seolah ikut kecewa karena aku gagal lagi. Rasanya sia-sia. Meskipun tidak begitu. Seolah semua jam belajar menjadi tenang itu hanyalah sandiwara yang kupentaskan untuk menenangkan ...