Langsung ke konten utama

SABAR, JANGAN NGAMUK!!!


---
CARA AKU MENGHADAPI ORANG-ORANG YANG NGGAK AKU SUKAI (FILOSOFI STOICISM) 


Hai teman-teman! 

Pernah nggak sih, kalian merasa sebel banget sama seseorang? Kayak, kenapa sih dia tuh ada aja kelakuannya yang bikin hati kita panas? 🔥 Well, aku juga pernah banget merasakannya. Tapi, belakangan ini aku belajar untuk menghadapi mereka dengan cara yang lebih santai dan elegan (katanya). 😏

Salah satu filosofi yang sangat membantuku adalah Stoicism. Seperti kata Seneca, seorang filsuf Stoic terkenal, "We suffer more often in imagination than in reality." Jadi, ketika berhadapan dengan orang yang nggak aku sukai, aku mencoba untuk nggak membiarkan imajinasiku memperparah keadaan.

Aku ingin berbagi bagaimana caraku menghadapi mereka, siapa tahu bisa membantu kalian juga. Dan jangan lupa, aku bakal rekomendasikan beberapa buku bagus buat kalian yang mau belajar lebih jauh tentang Stoicism. Yuk, kita mulai! 😆

1. Fokus pada Hal yang Bisa Aku Kendalikan 💪
Aku sadar banget kalau aku nggak bisa ngatur orang lain buat berubah. Seperti yang dikatakan oleh Epictetus, "It's not what happens to you, but how you react to it that matters." Jadi, saat mereka bersikap menyebalkan, aku memilih untuk tetap tenang, tarik napas, dan mengingat bahwa hanya aku yang bisa mengendalikan emosiku sendiri. 💖

📚 Buku yang bisa kalian baca: “The Daily Stoic” oleh Ryan Holiday dan Stephen Hanselman. Buku ini berisi 366 mediasi tentang kebijaksanaan, ketenangan, dan seni hidup, cocok untuk dibaca setiap hari!


2. Menganggap Mereka sebagai Ujian Kesabaran 😅
Yes, teman-teman, kadang mereka itu kayak ujian kesabaran tingkat dewa. 🤯 Tapi, aku berusaha berpikir, "Oke, ini kesempatan buatku melatih kesabaran." Kalian tahu Marcus Aurelius? Dia pernah bilang, "The best revenge is to be unlike him who performed the injury." Jadi, aku nggak perlu membalas, cukup jadi versi terbaik dari diriku sendiri.

📚 Buku yang bisa kalian baca: “Meditations” oleh Marcus Aurelius. Buku ini adalah catatan pribadinya tentang filosofi Stoicism dan sangat menginspirasi bagaimana dia menghadapi kesulitan dalam hidupnya.


3. Nggak Memberi Ruang untuk Penghinaan 🚫
Kalau mereka melontarkan kata-kata yang menyakitkan, aku ingatkan diriku bahwa kata-kata itu hanya punya kekuatan jika aku mengizinkannya. Seperti kata Epictetus, "If you want to improve, be content to be thought foolish and stupid." Jadi, biarkan saja berlalu~ 🌬️ Nggak perlu diambil pusing!


4. Kebahagiaanku Bukan Milik Mereka 🥰
Ini yang paling penting, teman-teman! Kebahagiaan dan ketenangan hatiku adalah milikku sendiri, bukan milik orang lain. Seperti kata Eleanor Roosevelt, "No one can make you feel inferior without your consent." Jadi, saat mereka mencoba mengusik, aku tetap fokus pada hal-hal yang bikin aku bahagia—melakukan hal yang kusuka, bersama orang-orang yang aku cintai, atau sekadar menikmati secangkir teh hangat di sore hari. ☕️

📚 Buku yang bisa kalian baca: “How to Be Free” oleh Epictetus, yang diadaptasi oleh A.A. Long. Buku ini memberikan pandangan yang lebih jelas tentang bagaimana kita bisa mendapatkan kebebasan batin dan menghadapi kehidupan dengan lebih tenang.


5. Menyadari Bahwa Mereka Pun Manusia 😌
Ini lumayan susah sih, tapi aku coba deh. Kadang, mereka tuh mungkin juga punya masalah atau beban yang nggak kita tahu. Marcus Aurelius mengingatkan kita, "Whenever you are about to find fault with someone, ask yourself the following question: What fault of mine most nearly resembles the one I am about to criticize?" Jadi, aku mencoba untuk nggak terlalu keras ke mereka dan melihat mereka sebagai manusia biasa yang juga bisa salah. It helps, lho! 🙆‍♀️


6. Fokus pada Tujuan Hidupku yang Lebih Bermakna 🌟
Saat aku mulai merasa kesal, aku coba ingat lagi, “Apa sih tujuan hidupku? Apa yang sebenarnya penting?” Dengan mengingat hal ini, aku jadi lebih bisa mengabaikan hal-hal yang nggak penting dan tetap berjalan menuju impian dan tujuan hidupku. 😊 "You could leave life right now. Let that determine what you do and say and think," kata Marcus Aurelius. Jadi, jangan buang-buang waktu memikirkan hal-hal yang nggak berfaedah.


7. Menerima Mereka Apa Adanya 🙌
Ini poin terakhir yang menurutku paling menenangkan. Aku belajar untuk menerima bahwa orang-orang seperti mereka memang ada dan akan terus ada. Dan itu nggak apa-apa. 🤷‍♀️ Dengan menerima kenyataan ini, aku jadi lebih damai dan nggak perlu repot-repot ingin mengubah mereka.



Nah, itulah caraku menghadapi orang-orang yang nggak aku sukai dengan filosofi Stoicism. Aku yakin, nggak ada yang mudah, tapi kata Epictetus, "Difficulties are things that show a person what they are." Jadi, kalau kita bisa melewati ini, kita akan menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana. 💪

Bagaimana dengan kalian? Ada yang pernah mencoba menghadapi orang-orang seperti ini? Share yuk, cerita atau pengalaman kalian di kolom komentar! 🤗

Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisanku. Dan buat yang penasaran, coba deh baca buku-buku yang aku rekomendasikan tadi, pasti kalian bakal lebih paham dan lebih bijak menghadapi hidup! Sampai ketemu di postingan berikutnya ya! 

Salam sayang, Funfun 


---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARIKU, UNTUKKU (RASA SYUKUR)

Hari ini… aku duduk sendiri di ruang kerja. Di negara orang, jauh dari rumah, sendirian menghadapi hari-hari yang rasanya… makin sunyi. Aku buka laptop, di sebelah ada sandwich yang setengah kumakan, dan sebungkus mochi yang belum juga disentuh. Entah kenapa, semuanya terasa hambar. Bukan karena rasanya, tapi karena pikiranku sedang kosong. Atau... mungkin penuh. Aku sempat mengeluh dalam hati. Tentang rasa bosan. Tentang kesepian. Tentang rutinitas yang terasa kaku. Tentang makanan yang nggak menggugah selera. Tentang perasaan hampa yang datang diam-diam. Lalu aku buka HP. Cuma iseng. Tapi yang aku temukan, bukan hiburan, melainkan hantaman. Lagi, lagi dan lagi.  Aku melihat cuplikan video. Seorang anak kecil di Gaza. Duduk di lantai penuh puing dan debu, memegang sepotong roti kering isi rumput. Tapi dia tersenyum. Bukan senyum terpaksa. Tapi senyum tulus, yang membuatku diam. Terpaku. Dan malu. Aku langsung berpikir, kenapa aku bisa-bisanya ngeluh? Aku memang jauh dari keluargak...

DALAM DIAM, AKU MENCINTAIMU

DALAM DIAM AKU MENCINTAIMU Cinta Yang Sederhana Di tengah keramaian kelas yang penuh dengan tawa dan suara lelaki, ada satu sosok yang selalu berhasil mencuri pandanganku. Dia, seorang teman sekelas yang lebih sering diam dan menyendiri, hadir seperti bayangan yang teduh. Pendiam, misterius, namun memancarkan sesuatu yang tak dapat kujelaskan. Dari pertama kali melihatnya, ada rasa yang tumbuh begitu saja—bukan karena penampilannya, bukan pula karena sikapnya yang menonjol. Rasa itu hadir seperti hujan yang turun tanpa peringatan, seperti benih yang entah bagaimana tertanam di hatiku dan terus tumbuh, meski aku tak pernah menginginkannya. Aku tidak pernah memilih untuk jatuh cinta padanya. Namun, perasaan itu hadir begitu saja, seolah hidup di luar kendaliku. Seperti rumput liar yang tumbuh subur tanpa disirami, perasaan ini semakin kuat, semakin dalam. Ada sesuatu tentang dia yang tidak pernah bisa kugambarkan dengan kata-kata. Tatapannya yang tenang, gerak-geriknya yang selalu tampak...

FROM AFAR

☘️ Ada hari-hari ketika aku merasa sudah begitu jauh berjalan. Begitu banyak hal kupelajari tentang tenang, tentang sabar, tentang menerima. Namun kemudian datang hari seperti ini, hari di mana aku kembali menjadi seseorang yang berusaha kupahami, tetapi belum bisa kucintai sepenuhnya. Aku marah lagi. Padahal sudah berjanji tidak akan. Lucu rasanya, betapa sering aku percaya bahwa aku telah tumbuh. Kupikir dengan membaca banyak buku, dengan menuliskan catatan reflektif tentang kedewasaan dan pengendalian diri, aku sudah menaklukkan sisi gelap yang dulu mudah terbakar. Ternyata, aku hanya menidurkannya sebentar. Semua buku tentang pengendalian diri yang pernah kubaca tiba-tiba terasa seperti teori tanpa jiwa. Kalimat yang dulu memberiku harapan kini hanya gema kosong di kepalaku. Mereka menatapku tanpa suara, seolah ikut kecewa karena aku gagal lagi. Rasanya sia-sia. Meskipun tidak begitu. Seolah semua jam belajar menjadi tenang itu hanyalah sandiwara yang kupentaskan untuk menenangkan ...