Langsung ke konten utama

BUKAN CERITA ROMANTIS (SHADES OF GRAY)

🍃
Rekomendasi musik :
Passenger - Let her go (Piano solo version)





Kali ini,  gue mengedarkan pandangan pelan-pelan. Bolak balik dari kiri ke kanan mengamati ruangan, mengamati situasi.
Bunyi kedua jari telunjuk tangan gue, yang dengan atau tanpa sengaja, bergantian mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca dihadapan gue jadi musik tersendiri, sekaligus bikin gue tetap tenang. 


Sekitar beberapa menit lalu, gue sempet kebingungan, gue ngerasa seolah situasi ini adalah dejavu. 
Gue berada di satu ruangan, dengan seseorang dihadapan gue yang volume bicaranya bener-bener keras, dengan atmosfer suasana yang seolah disetting supaya jadi sangat serius.

Sudah berapa kali ya seperti ini? 
Mungkin ini kali kedua, mungkin juga kali ketiga atau mungkin lebih dari itu.
Gue akhirnya paham. Mungkin itu alasan kenapa moment ini terasa sangat familiar.

Akhirnya, gue berusaha mengalihkan perhatian gue. Gue gamau, terlalu mikirin kata-kata ga genah yang ditujukan buat gue sedari awal pertemuan ini dimulai.
Seinget gue, yang berusaha dilontarkan orang paling vocal di ruangan ini hanya tuduhan, kalimat menyudutkan, dan upaya untuk mengintimidasi serta menjatuhkan mental.
Gue bergeming, selama dia ga melakukan penghinaan ke orang tua atau keluarga gue, selama dia ga mengolok-olok keyakinan yang gue anut terhadap tuhan dan agama gue, dan hal ini ga mengancam nyawa gue, gue rasa gue gaperlu bertindak berlebihan.

Tapi, seberapa seringpun gue mencoba nebak.
Gue tetep belum nemuin alasan, kenapa dia harus ngomong dengan teriak-teriak?
Kenapa dia harus buang-buang energi sebesar itu? Membiarkan dirinya terbakar api emosi negatifnya begitu?
Yang secara langsung atau tidak, dialah yang dirugikan. Dia merendahkan nilai dirinya, yang telah dilabeli sebagai orang yang terdidik.


**
Suara batuk tertahan dari seseorang, seolah narik pikiran gue yang melayang-layang buat balik ke ruangan ini.
Oiya, sedikit berbeda dengan kali-kali sebelumnya. Sekarang, di ruangan ini gue ga dengerin teriakan orang yang gak lain adalah atasan gue itu, sendirian. 
Ada lebih dari 10 orang duduk melingkari meja rapat, mengisi penuh kursi yang susunannya sudah rapi.

Meski begitu, kali ini gue tetep dapet spotlight.
Topik yang dibahas tentang gue bahkan belum berganti. Pemaparan tentang bagaimana buruknya gue yang melanggar peraturan (peraturan standar ganda), dan kekhawatiran dia akan sesuatu didiri gue yang dia anggap buruk bisa menular atau ditiru teman-teman gue yang lain. Dan untuk bahasan selebihnya, gue akan rangkum dan beri judul "pembunuhan karakter".
Gue gaada masalah dengan hal itu, penilaian dia ga merubah nilai gue, dimata gue sendiri. Lol

Sesekali, pandangan gue, gue arahkan ke orang itu. Orang yang masih anteng marah-marah meski udah 40 menit waktu berlalu.
Wajahnya udah merah, kaya orang yang baru selesai makan mie samyang variant super pedas. Pasti cape banget marah-marah gaada jeda begitu, mungkin sekarang dia pengen minum jus jeruk dingin.
Kayanya seger. Gue juga jadi mau.

Gue yang iseng, mencoba berkomunikasi ke satu persatu teman gue diruangan itu lewat kontak mata. Kadang mata gue, gue buat sipit, kadang juga alis mata gue naik turun, sebagai pengganti kata sapaan "Hello". 
Selain itu gue juga ngide buat coba nebak-nebak, apa yang lagi mereka pikirin.

Time to play.
Apa mungkin ya, sekarang di ruangan ini ada yang lagi nyanyi lagu The Beatles dalam hati?
Siapa ya?
Terus kira-kira lagu apa? 
Yesterday? Obladi oblada? Tickets to ride?
Kalo emang iya, gue harus nyaranin dia nyanyi lagu Wonderwall-nya Oasis juga. Siapa tau genre musik kesukaan kita sama, dan kita bisa main musik bareng.
Rasanya pasti seru! 

Kembali, gue memperhatikan lekat-lekat wajah atasan gue. Imajinasi gue mendominasi.
Gue mulai liar membayangkan, gimana ya kalo seandainya atasan gue itu sekarang lagi pake rambut palsu yang bentuknya kaya permen kapas merah muda, gimana ya kalo pas dia ngomong eh ternyata yang keluar itu bukan suaranya melainkan suara burung, gimana juga jadinya kalo giginya itu sekarang jadi warna-warni kerlap-kerlip. Itu pasti lucu.

Tanpa gue sadari.
Akhirnya gue kelepasan gabisa nahan ketawa, ketawa dengan volume yang lumayan keras ditengah ketegangan pertemuan itu, hanya karena moment absurd yang gue create sendiri di kepala gue.
Humor! Humor! 

Selanjutnya.
Lo pasti udah bisa nebak apa yang bakal terjadikan? Iya, betulan.
Gue dikeluarin dari ruangan, dan dapat ancaman akan diberi surat peringatan.

Yasudahlah.
Memang gue harus apa selain meninggalkan ruangan?
Meskipun gue keluar ruangan dengan perasaan bersalah, tapi satu-satunya kesalahan gue yang gue sadari saat itu hanyalah kelepasan ketawa ditengah moment serius orang lain.
Kurang sopan memang.
Tapi selebihnya, gue ga melanggar peraturan apapun yang dibuat. Dan ancaman hanyalah ancaman. Peraturan disini, sepertinya belum bisa memberikan surat peringatan tertulis hanya karena seseorang kelepasan ketawa saat dimarah-marahin.

Sambil jalan kaki menuju parkiran, ngambil kendaraan mau pulang. Gue mensyukuri saat ini bahwa gue bukan avatar. Iya, avatar.
Tau film "Avatar the legend of Aangga?
Pernah nonton?
Nah iya, avatar yang itu.
Untungnya gue bukan dia.
Di film itu, ada tambahan elemen air, api, tanah, dan udara yang harus bisa dikendalikan oleh seorang avatar. Pasti jelas lebih sulit, dibanding manusia biasa kaya gue. Yang cuma harus bisa mengendalikan pikiran dan perilaku.
Itupun perlu waktu seumur hidup buat gue belajar ngendaliin keduanya.

Contohnya disituasi sekarang.
Meskipun ga mudah. 
Gue sedang belajar mengendalikan pikiran dan perilaku gue. Untuk tidak menambah bumbu perasaan pada hal-hal yang sebetulnya bisa gue sikapi dengan netral.

Gue ga benci atasan gue, gue rasa juga atasan gue ga benci gue, terlepas dari cara-caranya berperilaku yang ga gue suka, tapi mungkin kita emang ga cocok aja.
Gue menyadari bahwa gue dan dia hanya individu yang berbeda kepentingan aja, galebih. 

Dan kali ini, gue nulis pengalaman gue diblog ini, cuma mau berbagi cerita sesuai pov gue.
Tentang cara gue berpikir dan berperilaku.
Konteks ceritanya pun sengaja ga gue buat lebih jelas lagi, agar lo tidak memihak dan tetep bisa menempatkan segala sesuatunya pada zona abu-abu.

Menurut gue, ditengah alur kehidupan yang semakin kompetitif dan intimidatif, penting bagi kita untuk mencoba tidak menyikapi segala sesuatu yang ada di luar kendali kita secara berlebihan. 
Mencoba hanya berfokus pada hal-hal yang ada dalam kendali kita membuat segalanya menjadi lebih menenangkan.
Segitu dulu ya cerita gue.

Sampai jumpa! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARIKU, UNTUKKU (RASA SYUKUR)

Hari ini… aku duduk sendiri di ruang kerja. Di negara orang, jauh dari rumah, sendirian menghadapi hari-hari yang rasanya… makin sunyi. Aku buka laptop, di sebelah ada sandwich yang setengah kumakan, dan sebungkus mochi yang belum juga disentuh. Entah kenapa, semuanya terasa hambar. Bukan karena rasanya, tapi karena pikiranku sedang kosong. Atau... mungkin penuh. Aku sempat mengeluh dalam hati. Tentang rasa bosan. Tentang kesepian. Tentang rutinitas yang terasa kaku. Tentang makanan yang nggak menggugah selera. Tentang perasaan hampa yang datang diam-diam. Lalu aku buka HP. Cuma iseng. Tapi yang aku temukan, bukan hiburan, melainkan hantaman. Lagi, lagi dan lagi.  Aku melihat cuplikan video. Seorang anak kecil di Gaza. Duduk di lantai penuh puing dan debu, memegang sepotong roti kering isi rumput. Tapi dia tersenyum. Bukan senyum terpaksa. Tapi senyum tulus, yang membuatku diam. Terpaku. Dan malu. Aku langsung berpikir, kenapa aku bisa-bisanya ngeluh? Aku memang jauh dari keluargak...

DALAM DIAM, AKU MENCINTAIMU

DALAM DIAM AKU MENCINTAIMU Cinta Yang Sederhana Di tengah keramaian kelas yang penuh dengan tawa dan suara lelaki, ada satu sosok yang selalu berhasil mencuri pandanganku. Dia, seorang teman sekelas yang lebih sering diam dan menyendiri, hadir seperti bayangan yang teduh. Pendiam, misterius, namun memancarkan sesuatu yang tak dapat kujelaskan. Dari pertama kali melihatnya, ada rasa yang tumbuh begitu saja—bukan karena penampilannya, bukan pula karena sikapnya yang menonjol. Rasa itu hadir seperti hujan yang turun tanpa peringatan, seperti benih yang entah bagaimana tertanam di hatiku dan terus tumbuh, meski aku tak pernah menginginkannya. Aku tidak pernah memilih untuk jatuh cinta padanya. Namun, perasaan itu hadir begitu saja, seolah hidup di luar kendaliku. Seperti rumput liar yang tumbuh subur tanpa disirami, perasaan ini semakin kuat, semakin dalam. Ada sesuatu tentang dia yang tidak pernah bisa kugambarkan dengan kata-kata. Tatapannya yang tenang, gerak-geriknya yang selalu tampak...

FROM AFAR

☘️ Ada hari-hari ketika aku merasa sudah begitu jauh berjalan. Begitu banyak hal kupelajari tentang tenang, tentang sabar, tentang menerima. Namun kemudian datang hari seperti ini, hari di mana aku kembali menjadi seseorang yang berusaha kupahami, tetapi belum bisa kucintai sepenuhnya. Aku marah lagi. Padahal sudah berjanji tidak akan. Lucu rasanya, betapa sering aku percaya bahwa aku telah tumbuh. Kupikir dengan membaca banyak buku, dengan menuliskan catatan reflektif tentang kedewasaan dan pengendalian diri, aku sudah menaklukkan sisi gelap yang dulu mudah terbakar. Ternyata, aku hanya menidurkannya sebentar. Semua buku tentang pengendalian diri yang pernah kubaca tiba-tiba terasa seperti teori tanpa jiwa. Kalimat yang dulu memberiku harapan kini hanya gema kosong di kepalaku. Mereka menatapku tanpa suara, seolah ikut kecewa karena aku gagal lagi. Rasanya sia-sia. Meskipun tidak begitu. Seolah semua jam belajar menjadi tenang itu hanyalah sandiwara yang kupentaskan untuk menenangkan ...