Langsung ke konten utama

AD MAIORA NATUS SUM


---

Hai! Apa kabar?
Apa yang kamu lakukan sekarang? Yang jelas, kamu sedang membaca tulisan ini dari aku. Nah, jika kamu tanya balik, "Apa yang aku lakukan?", jawabannya adalah: aku sedang berada di tempat yang baru. Suasana di sini cukup hektis. Hampir semua orang bergerak cepat, jalan cepat, dan berbicara cepat.

Berbanding terbalik dengan diriku, yang sejak dua jam lalu hanya duduk diam, bersandar di kursi samping pintu kantor, memperhatikan sekitar.

Sebenarnya, aku sudah cukup akrab dengan situasi asing seperti ini. Kenapa? Karena dua tahun terakhir, aku sering berada di situasi serupa. Aku sering berada di tempat baru, bertemu orang-orang baru, membahas topik baru, dan menjalani kegiatan yang benar-benar baru. Sekarang, aku tidak lagi canggung menghadapi hal-hal baru dalam hidupku.

Mungkin kamu juga merasakannya. Bayangkan bagaimana rasanya saat kamu pertama kali masuk sekolah, atau saat pertama kali memulai pekerjaan baru. Perasaan saat berada di tempat asing, dengan orang-orang asing, dan kegiatan yang asing—itulah yang aku rasakan sekarang.

Memang, fase awal selalu seperti ini. Perasaan yang muncul juga selalu serupa. Hal asing menjadi akrab, dan hal akrab bisa jadi terasa asing—siklus hidup yang sangat wajar. Yang bisa kita lakukan hanyalah beradaptasi.

Adaptasi itu tidak mudah. Tidak semua orang bisa menjalani perubahan dalam hidupnya, apalagi jika mereka sudah nyaman dengan rutinitas. Aku juga merasakannya. Sangat nyaman menjalani pola yang berulang. Misalnya, hari ini jadwalku seperti ini, datang ke lingkungan ini, bertemu orang-orang ini. Rasanya seperti mengikuti aliran yang sudah ada. Pada awalnya, aku pikir semua ini sudah teratur dan pasti. Namun, sedikit demi sedikit, aku mulai menyadari bahwa hal yang menurutku "pasti" itu sebenarnya tidak ada.

Setiap hal dipenuhi dengan ketidakpastian, bahkan yang sudah biasa aku lakukan. Aku tidak tahu kapan langkahku akan tersandung, tidak tahu hari apa yang akan jadi hari terakhir dalam hidupku, siapa orang yang akan terakhir kutemui—aku tidak tahu. Tak ada yang bisa memastikan, karena akhirnya aku paham bahwa satu-satunya kepastian adalah adanya ketidakpastian. Dan aku mulai berdamai dengan ketidakpastian ini.

Sejujurnya, perasaanku sekarang sedikit rumit, tapi aku menikmatinya. Ada campuran antara antusiasme dan kekhawatiran, antara berusaha dan berpasrah, antara menerima tantangan baru atau menyia-nyiakan kenyamananku. Semua perasaan ini—setiap rinciannya—sangat aku nikmati.

Di seratus hari sebelum tahun 2022 berakhir, aku selalu terjebak dalam pertanyaan di benakku: "Aku itu apa? Siapa aku? Mau apa aku? Mau ke mana?" Jika semua ini harus kupikirkan lagi, aku hanyalah seorang manusia biasa yang lahir dengan cara yang biasa. Kini, aku berusia 26 tahun. Cita-citaku ketika kecil adalah menjadi polisi wanita. Namun, seiring berjalannya waktu dan melewati berbagai tahap pendidikan, cita-cita itu perlahan menguap. Yang bisa ku kejar setelah lulus SMA adalah mencari pekerjaan yang halal. Ya! Tidak harus menjadi polisi; pekerjaan apa pun yang halal akan kulakukan. Akhirnya, aku menjadi karyawan di sebuah perusahaan.

Dari satu perusahaan ke perusahaan lain, aku mendapatkan beragam posisi pekerjaan—dalam ruangan, luar ruangan, berinteraksi dengan banyak orang, dan hanya terikat pada satu atasan. Aku bekerja dengan orang luar negeri dan dalam negeri, serta dengan mereka yang lebih senior dan sebaya. Beragam pengalaman ini memberi adrenalin tersendiri.

Namun, ketika masa kontrak kerja berakhir, aku merasakan kesedihan. Berpisah dengan rekan-rekan yang baik, pekerjaan yang sudah ku kuasai, dan semua yang akrab selama ini. Di sisi lain, rasa sukacita selalu muncul—entah darimana. Aku senang menghadapi hal-hal tak terduga yang akan datang, selalu antusias dengan apa yang akan kulalui selanjutnya. Pembelajaran baru, perkenalan baru, cara baru beradaptasi—semua itu membuatku bersemangat.

Namun, itu semua sudah lama berlalu. Di perusahaan tempatku bekerja sekarang, hampir tujuh tahun aku menetap, dan tidak banyak tantangan baru yang kutemui.

Semuanya berjalan baik, kesulitan pekerjaan sudah bisa kutangani. Mesin-mesin yang bisa kumengendalikan, lingkungan dan manusia yang sudah akrab seperti keluarga, aku tidak banyak beradaptasi lagi. Aku bersyukur, tapi rasa antusiasme itu kurang terpenuhi.

Awal 2020, aku mulai mengisi hariku dengan banyak hal baru yang ku rasa cukup untuk memenuhi hasrat keingin tahuanku. Aku ikut serta dalam sebuah organisasi, dan terlibat dalam berbagai kegiatan. Aku membaca banyak buku baru, menghadiri berbagai acara baru, dan bertemu banyak orang baru—sisi diriku yang sebelumnya tidak pernah kutemukan muncul.

Aku tidak menutup pertemanan hanya dalam lingkup pekerjaan dan organisasi; aku menjalin banyak relasi. Tahun berganti tahun, aku terus melakukannya. Namun, apa lagi yang kurang? Apa lagi yang ku cari?

Aku tidak tahu, tapi aku selalu ingin mencari tahu. Arah mana lagi yang harus kutempuh? Tempat mana lagi yang harus kutuju? Siapa yang harus kutemui selanjutnya? Aku selalu penasaran tentang itu. Antusiasmenya tak pernah terhentikan.

Semakin aku penasaran, semakin aku mencari. Semakin aku bertemu dengan keasingan, semakin aku merasa hal ini akrab bagiku. Aku tidak mengartikan ini sebagai ketidakpuasan terhadap apa yang telah kudapatkan, tetapi sebagai usaha untuk menyentuh batasanku.

Pertanyaan ini terus berputar dalam benakku: "Apakah aku hanya ini? Apakah aku akan terus berada di sini? Apakah aku hanya diri yang sekarang, atau aku belum memaksimalkan diriku hingga mencapai batasan?"

Hingga akhirnya, aku meninggalkan semua itu dan berada di tempat asing ini—benar-benar asing bagiku. Negara yang asing, bahasa, budaya, dan segala sesuatu terasa tidak familiar.

Di sini, hanya ada aku dan diriku sendiri, dengan usaha-usaha baru yang akan kulakukan semaksimal mungkin. Aku penasaran seberapa baik kemampuanku untuk bertahan di sini. Aku menamakan ini "Zona Abu". Ketika orang lain bilang aku sedang meninggalkan zona nyaman, aku tidak membantah, tetapi menurutku, yang sebenarnya aku lakukan adalah memperluas zona nyamanku.

Jika aku nyaman dengan segala hal dalam hidup yang telah kulalui, aku percaya aku juga harus nyaman dengan segala hal yang akan kuhadapi setelah ini.

Aku yakin, hal-hal baik akan mendekat padaku. Semua hal baik akan terpancar dari pikiran, perkataan, dan perbuatanku. Sama seperti zona ini, yang aku namakan "Zona Abu". Segala sesuatu yang masih abu selalu kutafsirkan sebagai sesuatu yang baik.

Perjalanan baruku dimulai sekarang, dengan bekal dari perjalanan lamaku. Aku rasa aku siap menerima apapun yang ada di masa depan sana dengan senang hati.

Aku sangat menyadari, ketika aku menantang diri, aku bisa menghadapi kemungkinan berhasil atau gagal. Solusi ketika aku gagal adalah selalu bangkit untuk mencoba lagi. Namun, jika aku diam, takut, dan tidak mencoba apapun, satu-satunya kemungkinan yang akan kutemui adalah kegagalan.

Salah satu bekal yang tak boleh hilang dalam diriku adalah selalu berbaik sangka pada takdir, Tuhan, diri sendiri, dan orang lain. Segala hal menjadi indah bila kita melihatnya dengan sudut pandang yang baik. Semua hal baik jika kita mampu meraih kebaikan darinya. Segalanya telah Tuhan atur dengan sempurna. Kita, hanya perlu berperan sebaik-baiknya dan memaksimalkan potensi kita.

Akhir kata, aku, Fani, di hari ini di mana tahun 2023 akan segera berakhir, ingin menuangkan perasaanku dengan jujur di sini. Sembari mengenang mereka yang kutinggalkan, yang tak ku sangka akan menangis saat perpisahan. Sejujurnya, aku tidak sedih ditangisi; justru aku senang, berarti aku berarti bagi mereka meski ada kesalahan yang pernah kulakukan.

Hari ini, aku hanya merasa bahwa inilah aku, dan beginilah cara aku harus hidup. Aku tidak perlu menjadi orang lain untuk mendapatkan cinta dan kebaikan ini. Dengan menjadi diriku sendiri, ini sudah lebih dari cukup.

Aku tidak akan menghibur siapapun yang menangisiku. Justru, semakin lama mereka menangis, semakin aku senang. Aku merasa bahagia bisa mengenal mereka. Aku akui, memang aku orang yang semenyenangkan itu. Haha.

Baiklah, cukup pujian untuk diriku. Sebelum aku mulai membanggakan hal-hal lain dari diriku, yang mungkin kurang baik, aku harus menyudahi tulisan ini.

Harapanku, siapapun yang membaca tulisan ini tidak akan mengubur rasa antusias terhadap hidup atau apapun itu. Terhadap rasa ingin tahu, penasaran, dan keinginan untuk menantang diri.

Siapapun yang pernah mengenal dan bertemu denganku, semoga kita bisa bertemu lagi di waktu yang lebih membahagiakan. Sekian dariku! Sampai jumpa!


---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DALAM DIAM, AKU MENCINTAIMU

DALAM DIAM AKU MENCINTAIMU Cinta Yang Sederhana Di tengah keramaian kelas yang penuh dengan tawa dan suara lelaki, ada satu sosok yang selalu berhasil mencuri pandanganku. Dia, seorang teman sekelas yang lebih sering diam dan menyendiri, hadir seperti bayangan yang teduh. Pendiam, misterius, namun memancarkan sesuatu yang tak dapat kujelaskan. Dari pertama kali melihatnya, ada rasa yang tumbuh begitu saja—bukan karena penampilannya, bukan pula karena sikapnya yang menonjol. Rasa itu hadir seperti hujan yang turun tanpa peringatan, seperti benih yang entah bagaimana tertanam di hatiku dan terus tumbuh, meski aku tak pernah menginginkannya. Aku tidak pernah memilih untuk jatuh cinta padanya. Namun, perasaan itu hadir begitu saja, seolah hidup di luar kendaliku. Seperti rumput liar yang tumbuh subur tanpa disirami, perasaan ini semakin kuat, semakin dalam. Ada sesuatu tentang dia yang tidak pernah bisa kugambarkan dengan kata-kata. Tatapannya yang tenang, gerak-geriknya yang selalu tampak...

CINTA DITOLAK? NALAR BERTINDAK!!

KETIKA MERASA DITOLAK : APAKAH AKU MEMANG LAYAK DICINTAI?  Hey gengs! Pernah nggak sih kalian baca quotes di medsos yang bunyinya kurang lebih kayak gini, "Kalau cinta  lu ditolak, coba balik pandangannya. Kalau lu jadi dia, apa lu mau sama diri lu yang kayak sekarang?" Waktu pertama kali baca kalimat ini, aku juga sempat kepikiran loh, "Hmmm, ada benernya nggak ya?" Kalimat itu ngajak kita buat coba melihat diri sendiri dari sudut pandang orang lain. Kalau kita ditolak, bukan cuma mikirin soal penolakan itu aja, tapi coba deh bayangkan kalau kita jadi orang yang nolak. Apakah kita akan tertarik dengan diri kita yang sekarang? Bukan berarti kita harus menyesuaikan diri sepenuhnya sama ekspektasi orang lain, tapi ini semacam ajakan buat introspeksi: "Apa aku udah jadi versi terbaik dari diriku?" atau “Apakah aku pribadi yang layak, menarik, dan bisa jadi harapan buat orang lain?” Nah, sebelum sedih dan mikir kalau kita nggak layak dicintai, yuk kita bahas h...

DARIKU, UNTUKKU (RASA SYUKUR)

Hari ini… aku duduk sendiri di ruang kerja. Di negara orang, jauh dari rumah, sendirian menghadapi hari-hari yang rasanya… makin sunyi. Aku buka laptop, di sebelah ada sandwich yang setengah kumakan, dan sebungkus mochi yang belum juga disentuh. Entah kenapa, semuanya terasa hambar. Bukan karena rasanya, tapi karena pikiranku sedang kosong. Atau... mungkin penuh. Aku sempat mengeluh dalam hati. Tentang rasa bosan. Tentang kesepian. Tentang rutinitas yang terasa kaku. Tentang makanan yang nggak menggugah selera. Tentang perasaan hampa yang datang diam-diam. Lalu aku buka HP. Cuma iseng. Tapi yang aku temukan, bukan hiburan, melainkan hantaman. Lagi, lagi dan lagi.  Aku melihat cuplikan video. Seorang anak kecil di Gaza. Duduk di lantai penuh puing dan debu, memegang sepotong roti kering isi rumput. Tapi dia tersenyum. Bukan senyum terpaksa. Tapi senyum tulus, yang membuatku diam. Terpaku. Dan malu. Aku langsung berpikir, kenapa aku bisa-bisanya ngeluh? Aku memang jauh dari keluargak...