Langsung ke konten utama

BUKAN CERITA ROMANTIS (SAAT GUE BENCI MANDI)

🌜 Bukan cerita bersambung. 
Dan setiap apa yang ada didalamnya baik dari nama tokoh, karakter, kejadian, dan hal-hal pendukung lainnya, dibuat berdasarkan penggabungan fakta dan karangan penulis.


••••
(Hari itu) 
Sejak pagi, gue sangat khusyu berdo'a.
Gue berdo'a supaya malem ini turun hujan. Gausah hujan yang gede disertai petir, sekedar gerimis juga gak apa-apa.

Tapi kayanya ada lebih banyak orang yang berdo'a agar malem ini gak turun hujan deh, makanya request do'a gue kalah dari segi kuantitas.
Secara, malem ini malem minggu, pasti banyak orang yang punya agenda seru-seruan diluar rumah. 
Tapi bagi gue, agenda paling seru di malem minggu adalah marathon film sambil ngemil snack bantal warna ungu. Sesuatu yang gabisa gue dapatkan dimalem minggu kali ini. 

Gue jadi inget moment tiga hari yang lalu, pas salah satu temen deket gue ngundang gue untuk datang ke acara malem ini.
Jawaban gue,
"Iya, gimana nanti aja, kalo ga hujan ya".
Dan disinilah gue sekarang, lagi makan kerupuk gado-gado dipesta pernikahan dia. 
Jangan ditanya dimana gado-gadonya, udah gue kunyah, gue telan dan udah bersemayam tenang didalem perut gue bareng satu porsi makanan berat lainnya. Tinggal sisa kerupuk sama sepotong kecil semangat yang lagi gue eksekusi.
Maksud gue, semangka. Sepotong kecil semangka.

Sejujurnya, gue dengan tulus turut bahagia di moment bahagia temen gue ini, tapi hal lain lagi kalo gue mesti datang ke acara ini sendirian, tanpa pendamping.
Ditambah gue juga ga nemuin temen-temen cewe yang gue kenal, karena gue datangnya kemaleman.
 
Jangan tanya juga sekarang penampilan gue kaya apa, jelas seadanya.
Selesai gue menghadiri agenda rutin dari sejak siang tadi, gue sengaja gapulang dulu kerumah dan langsung kesini, karena takut gajadi pergi kalo udah mager di rumah.

Kaos hitam yang bertuliskan pull and bear di dada, ditambah outer blazer hitam polos, celana katun hitam, sama bootstrap hitam setinggi lima centimeter.
Setelan pakaian yang gue suka dan bikin gue cukup pede ketika hadir di acara sebelumnya, tapi bikin gue kaya aneh diacara setelahnya.
All of black gini, gue lebih keliatan kaya mau hadir ke pemakaman di banding ke acara pernikahan.
Tapi beruntungnya, meskipun belum mandi, gue gapunya masalah bau badan. Jadi gue tetep punya cadangan beberapa persen rasa pede, karena masih wangi parfum kesukaan gue.

Balik ke situasi saat ini.
Tepat di depan gue, duduk dua orang temen cowo yang cukup lama udah gue kenal.
Dua orang.
Yang satunya sih dia netral, nah yang satunya lagi baru dia ga netral. Dia jamrud. Hahaha.
Engga. Tapi gue serius, satu diantara kedua orang itu adalah crush gue.

Kenapa gue harus ketemu crush gue di moment kaya begini sih?
Kenapa juga gue engga prepare diri sebelum kesini sih?
Siapa sih dalang kekacauan ini? 
Jawabannya adalah si-yang-na-nya.
Semesta lagi ga mendukung gue nih, mentang-mentang gue ga lagi bertanding apa-apa.
Gue ga henti-hentinya membatin.

Sebenernya dibanding gue, mereka udah sampe disini duluan. Mereka duduk ditempat ini duluan, dan makan duluan.
Sekacau-kacaunya gue, gue gabisa makan ditempat yang jauh dari mereka, pertama karena kita udah kenal dan temenan lama, dan kedua, kalo gue menghindar bakalan keliatan banget aneh dan awkwardnya.

Sambil tetep ngunyah makanan, gue sambil flashback ke waktu terakhir kali gue komunikasi sama crush gue.
Yaitu, saat gue kalah permainan sama sahabat gue. Gue nerima hukuman buat nyatain perasaan gue ke orang yang gue suka diem-diem. Kalo engga, gue harus bayarin makan dia sepuas-puasnya.

Bukan karena gue gamau tlaktir temen, tapi karena saking sering tlaktir dia gue jadi tau porsi makan dia kaya apa, gue jadi sanksi buat bayarin makan dengan porsi sepuasnya kaya yang dia maksud. 
Lagian gue pikir saat itu, ga masalah juga kalo gue bilang suka ke orang yang emang gue suka, bahkan sedari awal masuk sekolah menengah atas.
Kesimpulannya, gue lebih milih opsi pertama.
Dan dari situlah semua kecanggungan ini berakar.

Gue selalu pengen gigit perut gue sendiri kalo inget moment itu, rasa nervous bercampur kaya lagi diserang kupu-kupunya bikin malu banget.

Setelah makan, kita akhirnya barengan nyamperin pengantin dan ambil beberapa foto.
Ngobrolin beberapa pertanyaan basa-basi dan putusin buat pulang.
Ada perasaan lega akhirnya moment menegangkan ini selesai, tapi sedih juga sih, karena sebenernya gue masih betah barengan dan masih pengen liat wajah crush gue.
Tapi yaudahlah. 
Ketika kita jalan ke tempat parkir kendaraan kita masing-masing yang berbeda tempat, gue sempet denger beberapa notif di handphone gue.
Tapi males banget buat buka.
Gue lagi gamang. 
Tiga puluh persen diri gue pengen pulang karena badan udah lengket pengen mandi.
Tapi tujuh puluh persen diri gue sebenernya masih belum rela berpisah sama crush gue.
Secara, gue sama dia bener-bener ada di lingkungan yang beda, cuma di moment tertentu aja gue bisa ketemu dia. Itupun mungkin paling sering setahun cuma sekali.

Saat gue lagi di moment ngeluarin kacamata dari saku gue yang mau gue pake. 
Tiba-tiba lensa kaca mata gue basah sama setetes air gitu.
Btw, mata gue emang minus yang mengharuskan gue pake kacamata apalagi saat berkendara malem-malem.

Gue heran ini air apaan, gue pegang mata gue buat make sure aja kalo gue ga nangis.
Mata gue kering ko, ga mungkin air mata dong berarti. Gue nengok ke atas, celingukan liatin langit, siapa tau ada burung lewat pipis ga permisi. Tapi gaada juga.
Gue yang ngelantur tiba-tiba mikir apa ini air liur setan apa gimana? Gue merinding gaperlu.
Yaudah, abis itu gue buru-buru tancap gas langsung pulang.

Sesampainya dirumah, selesai gue mandi, gue denger diluar hujan deras banget.
Nah, itu dia do'a gue yang baru dikabulin! 
Kemana aja tuh si hujan? Segala ngaret datangnya, segala nunggu orang-orang selesai malem mingguan dulu? Halah! 

Sambil rebahan sebelum tidur, gue pikir penting buat gue buka handphone dan lihat notif yang masuk tadi.
Ada beberapa pesan masuk, dan salah satu diantaranya bikin mata gue hampir loncat. Itu adalah, pesan dari crush gue yang ngajak gue pergi ngopi. Keterangan waktu empat puluh lima menit yang lalu. 

GIMANA? GIMANA?
BERARTI SETELAH KELAR ACARA TADI?!! 
O.
M.
G. 

Sambil mencerna situasi, gue yang tadi seger abis mandi, mendadak lemes banget. 
Gatau harus mulai jambak rambut gue dari sisi yang mana. 
Pertanyaan gue ke diri gue selalu,
Kenapa ko bisa?
Kenapa ko bisa?
Kenapa ko bisa?
Kalo aja tiga puluh persen diri gue tadi ga pengen cepet-cepet pulang buat mandi, mungkin sekarang gue bisa ngopi dulu bareng crush gue dan ngobrol lama sambil nunggu hujan reda.
Sejak saat itu, gue jadi males mandi. 
Gue ilfeel sama seberapa teganya mandi tidak mendukung gue dan bikin gue kehilangan kesempatan buat ngopi bareng.




TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARIKU, UNTUKKU (RASA SYUKUR)

Hari ini… aku duduk sendiri di ruang kerja. Di negara orang, jauh dari rumah, sendirian menghadapi hari-hari yang rasanya… makin sunyi. Aku buka laptop, di sebelah ada sandwich yang setengah kumakan, dan sebungkus mochi yang belum juga disentuh. Entah kenapa, semuanya terasa hambar. Bukan karena rasanya, tapi karena pikiranku sedang kosong. Atau... mungkin penuh. Aku sempat mengeluh dalam hati. Tentang rasa bosan. Tentang kesepian. Tentang rutinitas yang terasa kaku. Tentang makanan yang nggak menggugah selera. Tentang perasaan hampa yang datang diam-diam. Lalu aku buka HP. Cuma iseng. Tapi yang aku temukan, bukan hiburan, melainkan hantaman. Lagi, lagi dan lagi.  Aku melihat cuplikan video. Seorang anak kecil di Gaza. Duduk di lantai penuh puing dan debu, memegang sepotong roti kering isi rumput. Tapi dia tersenyum. Bukan senyum terpaksa. Tapi senyum tulus, yang membuatku diam. Terpaku. Dan malu. Aku langsung berpikir, kenapa aku bisa-bisanya ngeluh? Aku memang jauh dari keluargak...

DALAM DIAM, AKU MENCINTAIMU

DALAM DIAM AKU MENCINTAIMU Cinta Yang Sederhana Di tengah keramaian kelas yang penuh dengan tawa dan suara lelaki, ada satu sosok yang selalu berhasil mencuri pandanganku. Dia, seorang teman sekelas yang lebih sering diam dan menyendiri, hadir seperti bayangan yang teduh. Pendiam, misterius, namun memancarkan sesuatu yang tak dapat kujelaskan. Dari pertama kali melihatnya, ada rasa yang tumbuh begitu saja—bukan karena penampilannya, bukan pula karena sikapnya yang menonjol. Rasa itu hadir seperti hujan yang turun tanpa peringatan, seperti benih yang entah bagaimana tertanam di hatiku dan terus tumbuh, meski aku tak pernah menginginkannya. Aku tidak pernah memilih untuk jatuh cinta padanya. Namun, perasaan itu hadir begitu saja, seolah hidup di luar kendaliku. Seperti rumput liar yang tumbuh subur tanpa disirami, perasaan ini semakin kuat, semakin dalam. Ada sesuatu tentang dia yang tidak pernah bisa kugambarkan dengan kata-kata. Tatapannya yang tenang, gerak-geriknya yang selalu tampak...

FROM AFAR

☘️ Ada hari-hari ketika aku merasa sudah begitu jauh berjalan. Begitu banyak hal kupelajari tentang tenang, tentang sabar, tentang menerima. Namun kemudian datang hari seperti ini, hari di mana aku kembali menjadi seseorang yang berusaha kupahami, tetapi belum bisa kucintai sepenuhnya. Aku marah lagi. Padahal sudah berjanji tidak akan. Lucu rasanya, betapa sering aku percaya bahwa aku telah tumbuh. Kupikir dengan membaca banyak buku, dengan menuliskan catatan reflektif tentang kedewasaan dan pengendalian diri, aku sudah menaklukkan sisi gelap yang dulu mudah terbakar. Ternyata, aku hanya menidurkannya sebentar. Semua buku tentang pengendalian diri yang pernah kubaca tiba-tiba terasa seperti teori tanpa jiwa. Kalimat yang dulu memberiku harapan kini hanya gema kosong di kepalaku. Mereka menatapku tanpa suara, seolah ikut kecewa karena aku gagal lagi. Rasanya sia-sia. Meskipun tidak begitu. Seolah semua jam belajar menjadi tenang itu hanyalah sandiwara yang kupentaskan untuk menenangkan ...