Langsung ke konten utama

PUISI (SURAT RINDU DARI ALIEN)

🌼


Rekomendasi musik :
Neon sky - Garden Collective.



JUDUL :
SURAT RINDU DARI ALIEN

Halo. Apakabar penghuni bumi?
Sedang apa kamu disana?
Baikkah? Sangat baikkah? Luar biasakah?
Aku harap selalu begitu.

Lalu, bagaimana kabar hujan?
Terakhir aku bertemu dengannya, rintiknya masih menenangkan dan memberikan kesejukan. Aroma tanah basah yang turut datang, nyanyian guntur dan dendang angin begitu ribut membuat hujan datang dengan meriah. Biarlah sesekali begitu.
Hujan seringnya memang terlalu pendiam. 

Lalu, bagaimana kabar mentari?
Tidak seperti bumi yang didatanginya setiap hari, disini dia sangat jarang terlihat.
Aku rindu pesonanya yang menyenangkan, senyum cerianya membuat hati siapapun menjadi riang. Selalu ku ingat saat bagaimana indahnya pelukan samudera pada mentari sebelum pergi. Sungguhan! Mereka memang sangat serasi. Memandang indahnya, aku menyadari bahwa sang Illahi sedang menyombongkan diri. 

Kabar siapa lagi yang hendak ku tanyakan.
Kamu taakan menemukan ujung suratku bila semua rinduku aku ungkapkan.
Juga pada bulan, juga pada gunung dan sapi-sapi yang tengah digembala dan rumput-rumput serta pohon rindang. Aku rindu.

Bumi, dengan segala keindahannya. 
Manusia, dengan segala macam ulahnya.
Membuatku, merasa semakin rindu saja.
Rindu yang lengkap dengan segala macam kegelisahannya.
Dimana aku harus mencari obatnya?
Di planet ini, aku rasa sangat sulit. Hanya bisa ku temukan saat kembali kesana.
Yasudah, sebelum menjadi liar biarkan rindu ini aku ikat dahulu. Sampai jumpa ya! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARIKU, UNTUKKU (RASA SYUKUR)

Hari ini… aku duduk sendiri di ruang kerja. Di negara orang, jauh dari rumah, sendirian menghadapi hari-hari yang rasanya… makin sunyi. Aku buka laptop, di sebelah ada sandwich yang setengah kumakan, dan sebungkus mochi yang belum juga disentuh. Entah kenapa, semuanya terasa hambar. Bukan karena rasanya, tapi karena pikiranku sedang kosong. Atau... mungkin penuh. Aku sempat mengeluh dalam hati. Tentang rasa bosan. Tentang kesepian. Tentang rutinitas yang terasa kaku. Tentang makanan yang nggak menggugah selera. Tentang perasaan hampa yang datang diam-diam. Lalu aku buka HP. Cuma iseng. Tapi yang aku temukan, bukan hiburan, melainkan hantaman. Lagi, lagi dan lagi.  Aku melihat cuplikan video. Seorang anak kecil di Gaza. Duduk di lantai penuh puing dan debu, memegang sepotong roti kering isi rumput. Tapi dia tersenyum. Bukan senyum terpaksa. Tapi senyum tulus, yang membuatku diam. Terpaku. Dan malu. Aku langsung berpikir, kenapa aku bisa-bisanya ngeluh? Aku memang jauh dari keluargak...

DALAM DIAM, AKU MENCINTAIMU

DALAM DIAM AKU MENCINTAIMU Cinta Yang Sederhana Di tengah keramaian kelas yang penuh dengan tawa dan suara lelaki, ada satu sosok yang selalu berhasil mencuri pandanganku. Dia, seorang teman sekelas yang lebih sering diam dan menyendiri, hadir seperti bayangan yang teduh. Pendiam, misterius, namun memancarkan sesuatu yang tak dapat kujelaskan. Dari pertama kali melihatnya, ada rasa yang tumbuh begitu saja—bukan karena penampilannya, bukan pula karena sikapnya yang menonjol. Rasa itu hadir seperti hujan yang turun tanpa peringatan, seperti benih yang entah bagaimana tertanam di hatiku dan terus tumbuh, meski aku tak pernah menginginkannya. Aku tidak pernah memilih untuk jatuh cinta padanya. Namun, perasaan itu hadir begitu saja, seolah hidup di luar kendaliku. Seperti rumput liar yang tumbuh subur tanpa disirami, perasaan ini semakin kuat, semakin dalam. Ada sesuatu tentang dia yang tidak pernah bisa kugambarkan dengan kata-kata. Tatapannya yang tenang, gerak-geriknya yang selalu tampak...

FROM AFAR

☘️ Ada hari-hari ketika aku merasa sudah begitu jauh berjalan. Begitu banyak hal kupelajari tentang tenang, tentang sabar, tentang menerima. Namun kemudian datang hari seperti ini, hari di mana aku kembali menjadi seseorang yang berusaha kupahami, tetapi belum bisa kucintai sepenuhnya. Aku marah lagi. Padahal sudah berjanji tidak akan. Lucu rasanya, betapa sering aku percaya bahwa aku telah tumbuh. Kupikir dengan membaca banyak buku, dengan menuliskan catatan reflektif tentang kedewasaan dan pengendalian diri, aku sudah menaklukkan sisi gelap yang dulu mudah terbakar. Ternyata, aku hanya menidurkannya sebentar. Semua buku tentang pengendalian diri yang pernah kubaca tiba-tiba terasa seperti teori tanpa jiwa. Kalimat yang dulu memberiku harapan kini hanya gema kosong di kepalaku. Mereka menatapku tanpa suara, seolah ikut kecewa karena aku gagal lagi. Rasanya sia-sia. Meskipun tidak begitu. Seolah semua jam belajar menjadi tenang itu hanyalah sandiwara yang kupentaskan untuk menenangkan ...