Langsung ke konten utama

PUISI (JIKA AKU ADALAH BUKU)

📚 JIKA AKU ADALAH BUKU
(untuk perempuan yang bertahan dalam sunyi)



Jika aku adalah buku,
aku ditulis bukan oleh tangan,
tapi oleh hari-hari yang tak sempat dijelaskan,
oleh malam yang diam-diam menangisi pagi,
oleh langkah yang terus berjalan
meski tak tahu sampai mana harus pergi.

Jika aku adalah buku,
Aku tidak bersampul keras,
tidak pula berilustrasi indah.
Tapi di balik tiap halamanku,
ada makna yang tak pernah kau temukan
dalam cerita yang dibuat-buat.

Aku adalah buku yang tidak menuntut untuk dikagumi,
tapi ingin dipahami.
Yang tidak ingin ditaruh di atas mimbar,
tapi dibaca di ruang hati yang paling jujur.

Halaman-halamanku mungkin tak rapi.
Ada bekas lipatan dari hari-hari keliru,
ada tinta luntur dari air mata yang pernah jatuh.
Tapi tak satu pun kata di dalamnya
pernah kutulis tanpa alasan.

Jika kamu pernah merasa sendiri dalam keramaian,
pernah merasa kecil di hadapan dunia,
pernah merasa hilang di tengah hidup yang padat—
aku adalah cerita yang ingin kamu temukan.

Karena aku tahu rasanya menjadi kuat
tanpa tepuk tangan.
Tahu rasanya memberi
saat diri sendiri sedang kosong.
Dan tahu bagaimana rasanya mencintai hidup
yang tak selalu mencintaimu kembali.

Jika aku adalah buku,
aku bukan jawaban.
Aku hanyalah teman diam yang berkata:
"Aku juga pernah di sana.
Dan jika kamu masih di sana,
tak apa. Duduklah dulu.
Nanti, kita lanjut jalan sama-sama."

Aku tak menjanjikan kebahagiaan instan,
karena kebahagiaan bukan milik mereka yang menunggu, 
tapi milik mereka yang terus bergerak meski perlahan.
Aku bukan peta hidup yang mengarahkan,
tapi aku adalah cerita tentang mereka
yang terus mencari arah meski tanpa petunjuk jelas.

Jika aku adalah buku,
aku ingin tetap ada di tanganmu,
ketika dunia berkata "ini sudah cukup",
tapi hatimu berkata "ini belum selesai".
Karena aku percaya,
setiap halaman yang terlewati
adalah kemenangan kecil,
dan kamu—
Kamu adalah pahlawan dalam ceritamu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARIKU, UNTUKKU (RASA SYUKUR)

Hari ini… aku duduk sendiri di ruang kerja. Di negara orang, jauh dari rumah, sendirian menghadapi hari-hari yang rasanya… makin sunyi. Aku buka laptop, di sebelah ada sandwich yang setengah kumakan, dan sebungkus mochi yang belum juga disentuh. Entah kenapa, semuanya terasa hambar. Bukan karena rasanya, tapi karena pikiranku sedang kosong. Atau... mungkin penuh. Aku sempat mengeluh dalam hati. Tentang rasa bosan. Tentang kesepian. Tentang rutinitas yang terasa kaku. Tentang makanan yang nggak menggugah selera. Tentang perasaan hampa yang datang diam-diam. Lalu aku buka HP. Cuma iseng. Tapi yang aku temukan, bukan hiburan, melainkan hantaman. Lagi, lagi dan lagi.  Aku melihat cuplikan video. Seorang anak kecil di Gaza. Duduk di lantai penuh puing dan debu, memegang sepotong roti kering isi rumput. Tapi dia tersenyum. Bukan senyum terpaksa. Tapi senyum tulus, yang membuatku diam. Terpaku. Dan malu. Aku langsung berpikir, kenapa aku bisa-bisanya ngeluh? Aku memang jauh dari keluargak...

DALAM DIAM, AKU MENCINTAIMU

DALAM DIAM AKU MENCINTAIMU Cinta Yang Sederhana Di tengah keramaian kelas yang penuh dengan tawa dan suara lelaki, ada satu sosok yang selalu berhasil mencuri pandanganku. Dia, seorang teman sekelas yang lebih sering diam dan menyendiri, hadir seperti bayangan yang teduh. Pendiam, misterius, namun memancarkan sesuatu yang tak dapat kujelaskan. Dari pertama kali melihatnya, ada rasa yang tumbuh begitu saja—bukan karena penampilannya, bukan pula karena sikapnya yang menonjol. Rasa itu hadir seperti hujan yang turun tanpa peringatan, seperti benih yang entah bagaimana tertanam di hatiku dan terus tumbuh, meski aku tak pernah menginginkannya. Aku tidak pernah memilih untuk jatuh cinta padanya. Namun, perasaan itu hadir begitu saja, seolah hidup di luar kendaliku. Seperti rumput liar yang tumbuh subur tanpa disirami, perasaan ini semakin kuat, semakin dalam. Ada sesuatu tentang dia yang tidak pernah bisa kugambarkan dengan kata-kata. Tatapannya yang tenang, gerak-geriknya yang selalu tampak...

FROM AFAR

☘️ Ada hari-hari ketika aku merasa sudah begitu jauh berjalan. Begitu banyak hal kupelajari tentang tenang, tentang sabar, tentang menerima. Namun kemudian datang hari seperti ini, hari di mana aku kembali menjadi seseorang yang berusaha kupahami, tetapi belum bisa kucintai sepenuhnya. Aku marah lagi. Padahal sudah berjanji tidak akan. Lucu rasanya, betapa sering aku percaya bahwa aku telah tumbuh. Kupikir dengan membaca banyak buku, dengan menuliskan catatan reflektif tentang kedewasaan dan pengendalian diri, aku sudah menaklukkan sisi gelap yang dulu mudah terbakar. Ternyata, aku hanya menidurkannya sebentar. Semua buku tentang pengendalian diri yang pernah kubaca tiba-tiba terasa seperti teori tanpa jiwa. Kalimat yang dulu memberiku harapan kini hanya gema kosong di kepalaku. Mereka menatapku tanpa suara, seolah ikut kecewa karena aku gagal lagi. Rasanya sia-sia. Meskipun tidak begitu. Seolah semua jam belajar menjadi tenang itu hanyalah sandiwara yang kupentaskan untuk menenangkan ...